Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah memaafkan apa yan terlintas dalam batin umatku selama belum di ucapkan atau belum di lakukan” . Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya), Aku adalah sebagaimana praduga atau prasangka hamba-Ku kepada-Ku, Aku senantiasa menyertainya selama dia mengingat-Ku, maka apabila dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku pun mengingatnya dalam hati, dan apabila dia mengingat-Ku dalam keadaan ramai, Akupun mengingatnya dalam keadaan ramai, bahkan lebih baik dari pengingatannya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah menerangkan,

“Asalnya doa itu dari hati. Adapun ucapan lisan adalah sebagai pengikut hati. Siapa yang menjadikan konsentrasinya saat berdoa pada pembenahan lisan saja, maka akan melemah munajat hatinya. Oleh karena itu seorang yang berada dalam kondisi genting, berdoa dengan hatinya. Sebuah doa yang membuka pintu kesulitan yang ia alami, yang sebelumnya tidak pernah terbetik dalam benaknya. (Majmu’ Al Fatawa)

Oleh karenanya setelah kita mengetahui bahwa berdoa dalam hati tercatat sebagai pahala, artinya hukumnya boleh karena diqiyaskan dengan dzikir, maka dianjurkan juga untuk mengangkat tangan ketika berdoa sebagaimana memanjatkan doa dengan lisan kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya),

“Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah, ia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, lalu mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Komentar:
Bagikan artikel ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •